Selasa, 02 April 2013

ASKEP BRONKOPNEUMONIA PADA ANAK


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan orang dewasa, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu dipertimbangkan. Bronkopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder terhadap berbagai keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga sebagai infeksi primer yang biasanya kita jumpai pada anak-anak dan orang dewasa. Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi,di Negara berkembang infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan. Laporan WHO 1999 menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza.
Hasil survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes tahun 2001, penyakit infeksi saluran napas bawah menempati urutan ke-2 sebagai penyebab kematian di Indonesia. Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya didapatkan data sekitar 180 pneumonia komuniti dengan angka kematian antara 20 - 35 %. Pneumonia komuniti menduduki peringkat keempat dan sepuluh penyakit terbanyak yang dirawat per tahun.
Gambaran klinis bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Batuk biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit,anak akan mendapat batuk setelah beberapa hari, di mana pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif. Gambaran klinis pada bronkopneumoni ini harus dapat dibedakan dengan gambaran klinis Bronkiolitis, Aspirasi pneumonia,Tb paru primer, sehingga penatalaksanaan dapat dilakukan secara tepat.
B.     Tujuan
            1.      Tujuan Umum
Mampu menerapkan perawatan pasien bronkopneumonia pada aanak
            2.      Tujuan Khusus
a.       Dapat melakukan pengkajian secara langsung terhadap perawatan pasien bronkopneumonia pada anak.
b.      Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan pada perawatan pasien bronkopneumonia pada anak.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Dasar Penyakit
            1.      Pengertian
Broncho pneumoni adalah frekuensi komplikasi pulmonari, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, pernafasan meningkat (Suzanne G Bare, 1993).
Bronkho pneumonia adalah salah satu peradangan paru yang terjadi pada jaringan paru atau alveoli yang biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratus bagian atas selama beberapa hari. Yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing lainnya. (Dep. Kes. 1996 : Halaman 106).
Bronchopneumoni adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Smeltzer & Suzanne C, 2002 : 572).
Bronchopneomonia adalah penyebaran daerah infeksi yang berbercak dengan diameter sekitar 3 sampai 4 cm mengelilingi dan juga melibatkan bronchi. (Sylvia A. Price & Lorraine M.W, 2006: 805).
Kesimpulan Bronchopneomonia adalah salah satu jenis pneumonia tepatnya pneumononia lobaris yang penyebaran daerah infeksinya berupa penyebaran bercak dan dapat meluas ke parenkim paru yang ada disekitarnya.
            2.      Etiologi
Secara umum individu yang terserang bronchopneumonia diakibatkan oleh adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang  yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral setempat.
Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa, mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia. (Sandra M. Nettiria, 2001 : 682) antara lain:
a.       Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella.
b.      Virus    : Legionella pneumoniae
c.       Jamur   : Aspergillus spesies, Candida albicans
d.      Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru
e.       Terjadi karena kongesti paru yang lama.
Sebab lain dari pneumonia adalah akibat flora normal yang terjadi pada pasien yang daya  tahannya terganggu, atau terjadi aspirasi flora normal yang terdapat dalam mulut dan karena adanya pneumocystis crani, Mycoplasma. (Smeltzer & Suzanne C, 2002 : 572 dan Sandra M. Nettina, 2001 : 682)
Menurut Whaley’s dan Wong (1996: 1400) disebutkan bahwa  Streptococus, staphylococcus atau basil ektrik sebagai agen penyebab di bawah umur 3 bulan.  Selain itu juga dapat disebabkan oleh bakteri : Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni), Mycobacterium Tuberculosis. Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.Jamur : Citoplasma Capsulatum, Criptococcus Nepromas, Blastomices Dermatides, Cocedirides Immitis, Aspergillus Sp, Candinda Albicans, Mycoplasma Pneumonia. Aspirasi benda asing.
            3.      Patofisiologi
Kuman penyebab bronchopneumonia masuk ke dalam jaringan paru-paru melaui saluran pernafasan atas ke bronchiolus, kemudian kuman masuk ke dalam alveolus ke alveolus lainnya melalui poros kohn, sehingga terjadi peradangan pada dinding bronchus atau bronchiolus dan alveolus sekitarnya.
Kemudian proses radang ini selalu dimulai pada hilus paru yang menyebar secara progresif ke perifer sampai seluruh lobus. Dimana proses peradangan ini dapat dibagi dalam empat (4) tahap, antara lain :
a.       Stadium Kongesti (4 – 12 jam)
Dimana lobus yang meradang tampak warna kemerahan, membengkak, pada perabaan banyak mengandung cairan, pada irisan keluar cairan kemerahan (eksudat masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi)
b.      Stadium Hepatisasi (48 jam berikutnya)
Dimana lobus paru tampak lebih padat dan bergranuler karena sel darah merah fibrinosa, lecocit polimorfomuklear mengisi alveoli (pleura yang berdekatan mengandung eksudat fibrinosa kekuningan).
c.       Stadium Hepatisasi Kelabu (3 – 8 hari)
Dimana paru-paru menjadi kelabu karena lecocit dan fibrinosa terjadi konsolidasi di dalam alveolus yang terserang dan eksudat yang ada pada pleura masih ada bahkan dapat berubah menjadi pus.
d.      Stadium Resolusi (7 – 11 hari)
Dimana eksudat lisis dan reabsorbsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada struktur semua (Sylvia Anderson Pearce, 1995 : 231- 232).
Bakteri dan virus penyebab terisap ke paru perifer melalui saluran napas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema, sehingga akan mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi yaitu terjadinya sel PMN (polimofonuklear) fibrin eritrosit, cairan edema dan kuman alveoli. Kelanjutan proses infeksi berupa deposisi fibril dan leukosit PMN di alveoli dan proses fagositosis yang cepat dilanjutkan stadium resolusi dengan meningkatnya jumlah sel makrofag di alveoli, degenerasi sel dan menipisnya febrio serta menghilangkan kuman dan debris (Mansjoer, 2000: 966).
           4.      Gejala Klinis
Bronchopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran pernafasan bagian atas selama beberapa hari. Pada tahap awal, penderita bronchopneumonia mengalami tanda dan gejala yang khas seperti menggigil, demam, nyeri dada pleuritis, batuk produktif, hidung kemerahan, saat bernafas menggunakan otot aksesorius dan bisa timbul sianosis(Barbara C. long, 1996 :435).
Terdengar adanya krekels di atas paru yang sakit dan terdengar ketika terjadi konsolidasi (pengisian rongga udara oleh eksudat)(Sandra M. Nettina, 2001 : 683).
Tanda gejala yang muncul pada bronkopneumonia adalah:
a.       Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
1)      Nyeri pleuritik
2)      Nafas dangkal dan mendengkur
3)      Takipnea
b.      Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
1)      Mengecil, kemudian menjadi hilang
2)      Krekels, ronki,
c.       Gerakan dada tidak simetris
d.      Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium
e.       Diafoesis
f.       Anoreksia
g.      Malaise
h.      Batuk kental, produktif Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
i.        Gelisah
j.        Sianosis Area sirkumoral, dasar kuku kebiruan
k.      Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati (Martin tucker, Susan. 2000_247).
          5.      Pemerikasaan Penunjang
Untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan dapat digunakan cara:
a.       Pemeriksaan Laboratorium
1)      Pemeriksaan darah
Pada kasus bronchopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis (meningkatnya jumlah neutrofil). (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)
2)      Pemeriksaan sputum
Bahan pemeriksaan yang terbaik diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam. Digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes sensitifitas untuk mendeteksi agen infeksius. (Barbara C, Long, 1996 : 435)
3)      Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan status asam basa.(Sandra M. Nettina, 2001 : 684).
4)      Kultur darah untuk mendeteksi bakteremia
5)      Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi untuk mendeteksi antigen mikroba (Sandra M. Nettina, 2001 : 684).
b.      Pemeriksaan Radiologi
1)      Rontgenogram Thoraks
Menunjukkan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada infeksi pneumokokal atau klebsiella. Infiltrat multiple seringkali dijumpai pada  infeksi stafilokokus dan haemofilus(Barbara C, Long, 1996 : 435).
2)      Laringoskopi/ bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan nafas tersumbat oleh benda padat(Sandra M, Nettina, 2001).
          6.      Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Keperawatan yang dapat diberikan pada klien bronkopneumonia adalah:
a.        Menjaga kelancaran pernapasan
b.       Kebutuhan istirahat
c.        Kebutuhan nutrisi dan cairan
d.       Mengontrol suhu tubuh
e.        Mencegah komplikasi atau gangguan rasa nyaman dan nyaman
Sementara Penatalaksanaan medis yang dapat diberikan adalah:
a.       Oksigen 2 liter/menit (sesuai kebutuhan klien)
b.      Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makan eksternal bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip
c.       Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk transpor muskusilier
d.      Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit (Arief Mansjoer,2000).  
B.     Konsep Asuhan Keperawatan
            1.      Pengkajian
a.       Fokus  Pengkajian
Usia bronkopneumoni sering terjadi pada anak. Kasus terbanyak sering terjadi pada anak berusia dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak terjadi pada bayi berusia kurang dari 2 bulan, tetapi pada usia dewasa juga masih sering mengalami bronkopneumonia.
b.      Keluhan Utama : sesak nafas
c.       Riwayat Penyakit
1)      Pneumonia Virus
Didahului oleh gejala-gejala infeksi saluran nafas, termasuk renitis (alergi) dan batuk, serta suhu badan lebih rendah daripada pneumonia bakteri.
2)      Pneumonia Stafilokokus (bakteri)
Didahului oleh infeksi saluran pernapasan akut atau bawah dalam beberapa hari hingga seminggu, kondisi suhu tubuh tinggi, batuk mengalami kesulitan pernapasan.
d.      Riwayat Kesehatan Dahulu
Sering menderita penyakit saluran pernapasan bagian atas riwayat penyakit fertusis yaitu penyakit peradangan pernapasan dengan gejala bertahap panjang dan lama yang disertai wheezing (pada Bronchopneumonia).
e.       Pengkajian Fisik
1)      Inspeksi : Perlu diperhatikan adanya takhipnea, dispnea, sianosis sirkumoral, pernafasan cuping hidung, distensi abdomen, batuk semula non produktif menjadi produktif, serta nyeri dada pada waktu menarik nafas pada pneumonia berat, tarikan dinding dada akan tampak jelas.
2)      Palpasi : Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin meningkat pada sisi yang sakit dan nadi mengalami peningkatan.
3)      Perkusi : Suara redup pada sisi yang sakit.
4)      Auskultasi : Pada pneumoniakan terdengar stidor suara nafas berjurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit dan ronkhi pada sisi yang resolusi, pernafasan bronchial, bronkhofoni, kadang-kadang terdenar bising gesek pleura.
f.       Data Fokus
1)      Pernapasan
Gejala  : takipneu, dispneu, progresif, pernapasan dangkal, penggunaan obat aksesoris, pelebaran nasal.
Tanda : bunyi napas ronkhi, halus dan melemah, wajah pucat atau sianosis bibir atau kulit
2)      Aktivitas atau istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : penurunan toleransi aktivitas, letargi
3)      Integritas ego : banyaknya stressor
4)      Makanan atau cairan
Gejala ; kehilangan napsu makan, mual, muntah
Tanda: distensi abdomen, hiperperistaltik usus, kulit kering dengan tugor kulit buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi)
5)      Nyeri atau kenyamanan
Gejala  : sakit kepala, nyeri dada (pleritis), meningkat oleh batuk, nyeri dada subternal (influenza), maligna, atralgia.
Tanda  : melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidur pada posisi yang sakit untuk membatasi gerakan)(Doengos,2000).
           2.      Diagnosa keperawatan
a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum. (Doenges, 2000 : 166)
b.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa aksigen darah, ganggguan pengiriman oksigen. (Doenges, 2000 : 166)
c.       Pola nafas tidak efektif  berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli. (Doenges, 2000 :177)
d.      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih, penurunan masukan oral. (Doenges, 2000 : 172)
e.       Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas.( Doenges, 2000 : 171)
f.       Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas sehari-hari. (Doenges, 2000 : 170)
            3.      Rencana keperawatan
1.      Diagnosa : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum
Tujuan :
a.    Jalan nafas efektif dengan bunyi nafas bersih dan jelas
b.    Pasien dapat melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret
Hasil yang diharapkan :
a)      Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/ jelas
b)      Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas Misalnya: batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
Intervensi :
1)      Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas. Misalnya: mengi, krekels dan ronchi.
Rasional: Bersihan jalan nafas yang tidak efektif dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas adventisius
2)      Kaji atau pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi/ ekspirasi.
Rasional: Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress atau adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
3)      Berikan posisi yang nyaman buat pasien, misalnya posisi semi fowler
Rasional: Posisi semi fowler akan mempermudah pasien untuk bernafas.
4)      Dorong atau bantu latihan nafas abdomen atau bibir
Rasional: Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dipsnea dan menurunkan jebakan udara
5)      Observasi karakteristik batuk, bantu tindakan untuk memperbaiki ke efektifan upaya batuk.
Rasional: Batuk dapat menetap, tetapi tidak efektif. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah perkusi dada.
6)      Kolaborasi untuk memberikan obat bronkodilator mis: B-agonis, epinefrin (adrenalin, Vaponefrin).
Rasional: Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal, menurunkan spasme jalan nafas, mengi, dan produksi mukosa.
2.      Diagnosa : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen.
Tujuan :
Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tidak ada distres pernafasan.
Hasil yang diharapkan :
a)        Menunjukkan adanya perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan
b)        Berpartisispasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi
Intervensi :
1)        Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan pernafasan
Rasional: Manifestasi distres pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum
2)        Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis.
Rasional: Sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respon tubuh terhadap demam atau menggigil dan terjadi hipoksemia.
3)        Kaji status mental
Rasional: Gelisah, mudah terangsang, bingung dapat menunjukkan hipoksemia.
4)        Awasi frekuensi jantung atau  irama
Rasional: Takikardi biasanya ada karena akibat adanya demam atau  dehidrasi.
5)        Awasi suhu tubuh. Bantu tindakan kenyamanan untuk mengurangi demam dan menggigil.
Rasional: Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler.
6)        Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam, dan batuk efektif
Rasional: Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiaki ventilasi.
7)        Kolaborasi pemberian oksigen dengan benar sesuai dengan indikasi
Rasional: Mempertahankan PaO2 di atas 90 mmHg.
3.         Diagnosa : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli
Tujuan:
Pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru jelas atau bersih
Hasil yang diharapkan:
a)      pola nafas menjadi efektif
b)      Frekuensi dan kedalamanya dalam rentang normal (16-20x/menit)
Intervensi :
1)      Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
Rasional: Kecepatan biasanya meningkat, dispnea, dan terjadi peningkatan kerja nafas, kedalaman bervariasi, ekspansi dada terbatas.
2)      Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius.
Rasional: Bunyi nafas menurun atau tidak ada bila jalan nafas terdapat obstruksi kecil.
3)      Tinggikan kepala dan bentu mengubah posisi.
Rasional: Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
4)      Observasi pola batuk dan karakter sekret.
Rasional: Batuk biasanya mengeluarkan sputum dan mengindikasikan adanya kelainan.
5)      Bantu pasien untuk nafas dalam dan latihan batuk efektif.
Rasional: Dapat meningkatkan pengeluaran sputum.
6)      Berikan humidifikasi tambahan
Rasional: Memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret untuk memudahkan pembersihan.
7)      Bantu fisioterapi dada, postural drainage
Rasional: Memudahkan upaya pernafasan dan meningkatkan drainage sekret dari segmen paru ke dalam bronkus.
8)      Kolaborasi pemberian oksigen tambahan.
Rasional: Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.
4.      Diagnosa : Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilngan cairan berlebih, penurunan masukan oral.
Tujuan : Menunjukkan keseimbangan cairan dan elektrolit
Hasil yang diharapkan :
a)        Intake dan output yang adekuat
b)        Tanda-tanda vital dalam batas normal
c)        Tugor kulit baik
Intervensi :
1)      Kaji perubahan tanda vital, contoh: peningkatan suhu, takikardi, hipotensi.
Rasional: Untuk menunjukkan adnya kekurangan cairan sistemik
2)      Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir, lidah).
Rasional: Indikator langsung keadekuatan masukan cairan
3)      Catat laporan mual atau muntah.
Rasional: Adanya gejala ini menurunkan masukan oral
4)      Pantau masukan dan haluaran urine.
Rasional: Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian
5)      Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
Rasional: Memperbaiki ststus kesehatan
5.        Diagnosa : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia, distensi abdomen.
Tujuan : Pemenuhan nutrisi yang terpenuhi secara adekuat.
Hasil yang diharapkan :
a)      Menunjukkan peningkatan nafsu makan
b)      Mempertahankan atau meningkatkan berat badan
c)      Bissing usus dalam batas normal
Intervensi :
1)      Identifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah.
Rasional: Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
2)      Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin, bantu kebersihan mulut.
Rasional: Menghilangkan bahaya, rasa, bau,dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual
3)      Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.
Rasional: Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini
4)      Auskultasi bunyi usus, observasi atau palpasi distensi abdomen.
Rasional: Bunyi usus mungkin menurun bila proses infeksi berat, distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara dan menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran gastro intestinal
5)      Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.
Rasional: Adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi, atau lambatnya respon terhadap terapi
6)      Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna, secara nutrisi seimbang.
Rasional     :metode makan den kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu.
6.      Diagnosa : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas hidup sehari-hari.
Tujuan : Peningkatan toleransi terhadap aktifitas.
Hasil yang diharapkan :
a)      Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas
b)      Tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi :
1)      Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas.
Rasional: Menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi
2)      Berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung selama fase akut.
Rasional: Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat
3)      Jelaskan pentingnya istitahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbamgan aktivitas dan istirahat.
Rasional: Tirah baring dipertahankan untuk menurunkan kebutuhan metabolik
4)      Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.
Rasional: Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen(Marilyn E. Doenges, 2000).
            4.      Pelaksanaan
Adalah mengelolah dan mewujudkan dari rencana perawatan meliputi tindakan yang direncanakan oleh perawat melaksanakan anjuran dokter dan ketentuan RS.
           5.       Evaluasi
Merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah di buat pada tahap perencanaan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Bronchopneomonia adalah salah satu jenis pneumonia tepatnya pneumononia lobaris yang penyebaran daerah infeksinya berupa penyebaran bercak dan dapat meluas ke parenkim paru yang ada disekitarnya.
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan orang dewasa, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu dipertimbangkan.
B.     Saran
Ada beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai masukan dalam keperawatan agar menjadi lebih baik:
           1.      Memperbanyak waktu pengkajian sampai evaluasi tentang perawatan bronkopneumonia pada anak.
           2.      Melanjutkan intervensi keperawatan pada prioritas masalah perawatan bronkopneumonia pada anak. 
DAFTAR PUSTAKA
Martin tucker, Susan. 2000. Standar Perawatan Pasien: Proses Keperawatan, Diagnosis, Dan Evaluasi halaman 247.EGC: Jakarta.
Mansjoer, Arif.2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke 3 Jilid ke 2. Media Aesculapius.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:Jakarta.
Departemen Kesehatan RI (1996). Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Depkes ; Jakarta.
Brunner & Suddrath. 2002. Keperawatan Medikel Bedah. EGC: jakarta.
Sylvia A. Price & Lorraine M.W. 2006.Patofisiologi konsep klinis dan proses-proses penyakit. EGC: Jakarta.
Sandra M Nettina.2001. Lippincott “Manual Praktik Keperawatan”. EGC: Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar